JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan mengalami koreksi minor pada pekan pertama Juni 2025, seiring dengan meningkatnya ketidakpastian global akibat tensi perang dagang Amerika Serikat (AS).
Hal ini sebagaimana disampaikan oleh Analis Phintraco Sekuritas, Valdy Kurniawan yang menyoroti perlambatan momentum pasar dan minimnya sentimen positif dari dalam negeri.
Pada perdagangan terakhir pekan lalu, Rabu (28/5), IHSG ditutup melemah ke level 7.175, turun 0,322 persen dari perdagangan sebelumnya.
Menurut Valdy, pelemahan tersebut disebabkan oleh aksi ambil untung menjelang libur panjang akhir pekan lalu. Kondisi ini diperparah dengan memburuknya tensi dagang global.
“Minimnya faktor positif baru membuat investor cenderung merealisasikan keuntungan, dan perlu diwaspadai dampak meningkatnya ketidakpastian seputar perang tarif AS,” ujar Valdy dalam riset mingguannya, seperti dikutip Holopis.com, Senin (2/5).
Sentimen negatif global terutama berasal dari dinamika tarif perdagangan antara AS dan Tiongkok. Setelah Pengadilan Perdagangan AS memerintahkan pembatalan tarif pada 28 Mei, keputusan itu dibatalkan oleh pengadilan banding sehari setelahnya.
AS kini tengah mempertimbangkan tarif baru sebesar 15% selama 150 hari, sementara mantan Presiden Donald Trump berencana menggandakan tarif baja dan aluminium dari 25% menjadi 50% mulai 4 Juni 2025.
“Trump juga menuduh Tiongkok melanggar kesepakatan dagang awal, ini jelas menciptakan keresahan investor global,” kata Valdy.
Situasi ini memicu kekhawatiran pelaku pasar terhadap arah kebijakan ekonomi global, di tengah penantian rilis sejumlah data penting dari AS pekan ini, seperti ISM Manufacturing Index, ADP Employment Change, Nonfarm Payrolls, dan Unemployment Rate.
Dari kawasan Euro dan Tiongkok juga akan dirilis data inflasi, kebijakan moneter ECB, serta PMI sektor manufaktur dan jasa.
Secara teknikal, Valdy mencatat bahwa indikator stochastic RSI IHSG berada di area overbought, sedangkan Bollinger Bands yang mulai melebar mengindikasikan potensi meningkatnya volatilitas pasar.
Meski MACD masih menunjukkan sinyal positif, namun momentumnya cenderung melambat.
“Dengan kondisi ini, IHSG berpotensi mengalami koreksi minor dan menguji level support di 7.100 hingga 7.050. Resistance kuat berada di level 7.250, dan pivot di 7.150,” jelas Valdy.
Meski pasar menghadapi tekanan, Valdy tetap merekomendasikan beberapa saham yang dinilai memiliki prospek menarik dalam jangka pendek. Saham-saham unggulan pilihan pekan ini antara lain:
- INDF (Indofood Sukses Makmur)
- UNTR (United Tractors)
- ASII (Astra International)
- EMTK (Elang Mahkota Teknologi)
- ADMR (Adaro Minerals)
- ACES (Ace Hardware Indonesia)

