Anak-anak NTT Lahap Menu Jagung MBG, Ahli Gizi: Ini Bisa Jadi Contoh Ibu di Rumah

0 Shares

JAKARTA – Sejak hadirnya dapur Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Tambolaka, pola konsumsi anak sekolah dan ibu hamil mulai berubah signifikan. Menu yang dulunya terbatas kini berganti menjadi sajian sehat dengan kandungan gizi seimbang, berkat tangan dingin seorang ahli gizi lokal, Albertina Susana Momo, yang setiap hari memastikan kualitas pangan tetap sesuai standar nasional.

Berbeda dari program makan gratis lainnya, dapur MBG Tambolaka justru mengandalkan bahan pangan lokal. Salah satu andalan mereka adalah jagung manis, yang ternyata sangat digemari anak-anak karena rasanya yang lezat dan penyajiannya yang bervariasi.

- Advertisement -

“Jagung itu kandungan gizinya lengkap: karbohidrat, serat, protein, kalsium, juga vitamin,” ujar Albertina dalam keterangan yang diterima Holopis.com.

Menurutnya, anak-anak sangat antusias terhadap menu berbasis jagung. “Mereka suka karena rasanya manis, dan orang tua mereka jarang sekali memasak sayur dicampur jagung seperti yang kami sajikan di dapur,” ujarnya.

- Advertisement -

Kombinasi rasa, tampilan, dan manfaat gizi membuat anak-anak makan lebih lahap sebuah indikator keberhasilan pendekatan gizi berbasis kearifan lokal.

Namun bukan hanya jagung yang jadi primadona. Menu harian dapur MBG juga menyertakan beras, ayam, telur, ikan, tahu, tempe, serta sayuran seperti buncis, wortel, dan kacang panjang. Pendekatan ini sejalan dengan prinsip gizi seimbang, yang tidak hanya memberi energi tapi juga mendukung tumbuh kembang anak secara optimal.

Selain menyasar kebutuhan nutrisi anak dan ibu hamil, program MBG di Tambolaka juga memberikan efek domino positif pada masyarakat sekitar. Petani lokal kini memiliki pasar tetap untuk hasil pertaniannya, sementara ibu rumah tangga dilibatkan dalam proses produksi dan distribusi makanan.

“Program ini memberdayakan kami yang dulunya belum punya pekerjaan tetap. Saya sendiri, sebagai tenaga gizi, akhirnya bisa mengabdi langsung di masyarakat,” tutur Albertina.

Ia berharap program ini bisa berkelanjutan dan menjadi inspirasi daerah lain dalam menanggulangi stunting dan ketimpangan akses gizi.

Menurut Albertina, yang paling penting dari kehadiran MBG adalah edukasi pola makan yang menular ke rumah tangga. “Dengan ini, orang tua jadi tahu makanan seperti apa yang baik untuk anak-anak mereka,” ujarnya.

Ia percaya bahwa jika pola konsumsi rumah tangga berubah, dampaknya akan jauh melampaui sekadar kenyang ia akan membawa masyarakat ke arah hidup yang lebih sehat dan sejahtera.

Dapur MBG Tambolaka menjadi bukti konkret bagaimana program pangan nasional bisa menyatu dengan misi kesehatan, edukasi, dan pemberdayaan ekonomi lokal. Dari jagung manis di ladang hingga piring makan di sekolah, setiap bagian dari rantai ini adalah cerita tentang perubahan.

 

- Advertisement -
Ikuti kami di Google News lalu klik ikon bintang. Atau kamu juga bisa follow WhatsaApp Holopis.com Channel untuk dapat update 10 berita pilihan redaksi dan breaking news.
0 Shares
💬 Memuat kolom komentar Facebook...
Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut

Berita Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru