LAMPUNG – Para peternak di Lampung kini mulai tersenyum lebar ketika hendak tiba musim Kurban di Hari Raya Idul Adha 1446 H seperti saat ini. Beberapa di antara peternak yang merasakan kebahagiaan itu adalah Dwi Indarto dan Yuliana.
Di mana keduanya bersama dengan para peternak lainnya mengalami peningkatan yang cukup signifikan setiap tahunnya dalam hal distribusi dan permintaan pasar akan kebutuhan hewan kurban.
Dwi penerima manfaat dan sekaligus mitra Tebar Hewan Kurban yang berada di Tulung Agung, Pringsewu, Lampung Selatan, merasakan dampak dengan berkolaboraksi bersama Dompet Dhuafa.
“Alhamdulillah dengan adanya Dompet Dhuafa dapat membantu saya dalam penyerapan doka ke pasar. Serta penambahan doka hingga sebanyak lebih 200 ekor,” kata Dwi dalam keterangannya yang diterima Holopis.com, Senin (26/5/2025).
Sementara itu, pria asal Jawa tersebut menceritakan, bahwa bisnis peternakannya itu bermula hanya 30 ekor doka saja. Bahkan daya serap dan permintaan yang minim membuat Dwi Indarto sempat merasa resah.
Bagaimana tidak, penjualan minim hingga doka (Domba Kambing) yang dijual tidak terlalu banyak diminati para pembeli. Namun hal itu tidak terjadi setelah berkolaborasi dengan Dompet Dhuafa melalui program “Tebar Hewan Kurban”.
Selain dirinya mampu memenuhi permintaan pasar, pendampingan yang diberikan Dompet Dhuafa pun memberikan dampak yang lebih positif lagi dalam tata kelola peternakannya saat ini.
“Dengan adanya pendampingan saya menambah wawasan terkait dengan pangan hinggan manajemen kendang yang baik dan benar sehingga menghasilkan doka yang berkualitas,” ujarnya.
Untuk itu, kini pun Dwi ikut bersama membantu warga sekitar dengan membeli bibit bakalan doka serta di gemukan ke dalam kendangnya. Selain itu Dwi juga membuat variasi pakan yang terdiri dari ampas singkong, ampas sawit hingga rumput yang berkualitas. Tidak jarang Dwi harus mendapatkan pakan tersebut dari luar Lampung.

Jangkau Pasar Lewat Media Sosial
Selain itu Dwi saat ini mencoba meraup keuntungan dengan berbisnis melalui jaringan media sosial. Melalui tayangan video yang diunggah ke medsos, kini penjualannya pun tak terlalu lesu seperti awal-awal merintis bisnis peternakan ini.
“Wah kalau gunakan media sosial begitu cepat mas penjualannya, biasanya mereka langsung pesan dengan chat dan permintaan dengan video kualitas doka yang dipesan. Setelah itu pemesanan dilakukan dengan transfer atau datang langsung ke kendang,” tutur Dwi.
“Selain itu permintaan akan doka ada peningkatan sebanyak 15% per tahun,” sambungnya.
Penggunaan media sosial cukup ampuh dalam mengembangkan industri peternakan di era saat ini. Untuk memberikan kepercayaan lebih kepada para pelanggannya, Dwi juga selalu memperhatikan bobot hingga kesehatan terutama pada mulut hingga kuku.
“Alhamdulillah hingga saat ini petugas dari pemerintahan selalu melakukan kontrol dan pengecekan terhadap kesehatan hewan,” jelasnya.
Di tempat yang berbeda, Yuliani yang ternyata mantan buruh migran Indonesia ini pun merasakan hal serupa dengan Dwi. Ia yang sempat enam tahun mendiami negara Taiwan, lalu kembali ke tanah air dengan tekat bulat untuk berjuang atas sisa modal yang ia dapat baik untuk mengkuliahkan anak hingga membuka peternakan.
Dalam bisnis peternakannya itu, Yuliana memulai dari 40 ekor doka, saat ini Yuliani bersyukur bisa mengembangkan hingga 140 ekor.
“Alhamdulillah saat ini daya serap permintaan cukup tinggi apalagi dengan berkolaboraksi Dompet Dhuafa, banyak kebermanfaatan yang saya capai hingga menuntaskan anak kuliah,” ujar Yuliani.
Yuliani yang tinggal di Gading Rejo, Pesawaran, Lampung, pun akhirnya mengajak para milenial untuk menekuni bidang peternakan. Selain keuntungan yang diperoleh signifikan, manfaat lainnya adalah membangun lapangan kerja yang maksimal bagi masyarakat sekitar.
Sementara itu, Kepala Cabang Dompet Dhuafa Lampung Nandrianto Suparno mengatakan, Dompet Dhuafa telah menetapkan standar bobot dan harga untuk setiap kategori hewan kurban.
Untuk hewan domba ekonomis bobot 18-22 kg, standar bobot 23-25 kg seharga Rp1.999.000, hingga platinum bobot 38-42 kg. Untuk sapi, tersedia bobot 250-300 kg dengan harga Rp13.999.000 per ekor atau Rp2.090.000 per 1/7 bagian.
“Sekitar 100-200 hewan yang disiapkan telah terjual, sementara sisanya disalurkan ke daerah-daerah pelosok 3T (tertinggal, terdepan, terluar) yang ada di Lampung, dan juga beberapa wilayah seperti Kabupaten Lampung Utara, Lampung Selatan, Lampung Timur, Tanggamus, dan Pesawaran,” kata Nandrianto.

