Ini Jawaban Harvard Setelah Dilarang Trump Terima Mahasiswa Asing
JAKARTA - Universitas Harvard mengecam tindakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang meralang Harvard menerima mahasiswa internasional. Harvard mengatakan bahwa itu adalah keputusan yang akan mempengaruhi ribuan mahasiswa. Hal itu juga disebut ilegal.
Harvard juga mengatakan bahwa tindakan ini akan memberikan kerugian serius tak hanya bagi komunitas dan negara Amerika Serikat.
“Tindakan pembalasan ini mengancam kerugian serius bagi komunitas Harvard dan negara kita, serta melemahkan misi akademis dan penelitian Harvard,” demikian disampaikan Universitas Harvard, dikutip Holopis.com, Jum’at (23/5).
Ternyata, sebelumnya Harvard menolak memberikan informasi kepada pemerintah Donald Trump untuk memberikan informasi beberapa pemegang visa pelajar yang kuliah di sana.
Presiden Donald Trump Tuding Harvard Berikan Ajaran yang Tak Sesuai dengan Nilai-nilai Amerika
Presiden Donald Trump memang selama ini sudah melakukan berbagai upaya untuk merombak perguruan tinggi dan sekolah swasta di seluruh Amerika karena dianggap telah menumbuhkan ideologi anti-Amerika, Marxism dan kiri radical atau radsical left wing.
Ia memberikan kritikan terhadap Harvard akrena memposisikan banyak anggota penting dari partai Demokrat untuk mengajar dan menjabat di sana
Pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump resmi melarang Universitas Harvard untuk menerima mahasiswa dan mahasiswi internasional pada hari Kamis (23/5). Tak sampai di situ, bahkan Donald Trump memaksa para mahasiswa internasional yang sudah ada di Universitas tersebut untuk pindah ke sekolah lain. Jika mereka tidak menepati peraturan, maka surat izin berada di Amerika Serikat yang mereka pegang terancam dicabut.
Usut punya usut, Menteri Keamanan Dalam Negeri Kristi Noem menuding Universitas Harvard bekerja sama dengan Partai Komunis Tionkok untuk mendorong antisemitisme.
“Mendorong kekuasaan antisemitisme, dan berkoordinasi dengan Partai Komunis Tiongkok,” kata Kristi Noem.
Ia juga mengatakan bahwa universitas sebenarnya tidak berhak menerima mahasiswa internasional, namun hal itu hanyalah keistimewaan saja.
“Merupakan suatu keistimewaan, bukan hak, bagi universitas untuk menerima mahasiswa asing dan mendapatkan keuntungan dari biaya kuliah yang lebih tinggi untuk membantu menambah dana abadi mereka yang bernilai miliaran dolar,” katanya.
Kristi Noem kemudian memerintahkan departemennya untuk menghentikan sertifikasi Program Mahasiswa dan Pengunjung Pertukaran Universitas Harvard.
Sebagai informasi, Universitas Harvard telah menerima hampir 6.800 mahasiswa internasional di tahun 2024 hingga 2025. Jumlah tersebut mencapai 27% dari jumlah penerimaan mahasiswa secara keseluruhan.
Di tahun 2022, mahasiswa dari Chna menjadi populasi terbesar mahasiswa asing di Amerika Serikat. Diikuti dengan Kanada, India, Korea Selatan, Inggris, Jerman, Australia, Singapura, dan Jepang.