Hari Peringatan Reformasi, 21 Mei : Begini Sejarah Singkatnya

0 Shares

JAKARTA – Hari Peringatan Reformasi Nasional diperingati pada tanggal 21 Mei di setiap tahunnya. Hari bersejarah tersebut dimulai pada 1998 silam atau lebih tepatnya seiring dengan lengsernya Presiden RI ke-2 Soeharto.

Lalu apa itu Reformasi? Jika menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), reformasi merupakan perubahan secara drastis untuk perbaikan di bidang sosial, politik, atau agama dalam suatu masyarakat atau negara.

- Advertisement -Hosting Terbaik

Ada pun Hari Peringatan Reformasi itu sendiri sejatinya didasari krisis moneter yang terjadi pada 1998.

Krisis moneter atau yang dikenal sebagai krismon tersebut melanda Indonesia hingga berdampak pada kelumpuhan ekonomi Nasional. Hal itu bisa dilihat dari nilai tukar Rupiah kala itu dengan Dollar AS, yang awalnya Rp2500 per Dollar, menjadi Rp 17 ribu per Dollar-nya.

- Advertisement -

Atas hal itu, gelombang kenaikan harga secara masif terjadi, mulai dari harga Bahan Bakar Minyak (BBM), hingga bahan pokok lainnya.

Terutama BBM, dimana kenaikan BBM jenis premium kala itu menjadi tonggak dimana gelombang PHK masal terjadi, usaha-usaha bangkrut.

Krisis ini membuat kepercayaan masyarakat merosot. Soeharto sudah dianggap tidak mampu lagi mengatasi krisis berkepanjangan ini. Reformasi adalah jalan yang dituntut masyarakat.

Mahasiswa menggelar aksi demonstrasi di berbagai daerah di Indonesia dalam rangka menuntut Soeharto agar lekas turun dari tampuk kekuasaan. Akan tetapi, Soeharto masih saja bersikeras untuk melakukan reformasi usai tahun 2003.

Reformasi tak kunjung terlaksana, protes para mahasiswa pun makin tak terbendung, membuat aksi demonstrasi bermunculan kembali di sejumlah daerah. Seperti di antaranya, Jakarta, Yogyakarta, Bandung, Ujungpandang, dan daerah lain.

Peristiwa demonstrasi semakin membara, hingga meledaklah peristiwa 12 Mei, yang dikenal dengan ‘Tragedi Trisakti’. Tragedi berdarah terjadi daat para mahasiswa Trisakti dihalangi saat hendak menuju gedung DPR.

Kekacauan semakin parah setelah aparat keamanan mengeluarkan tembakan peringatan. Namun tembakan itu berpeluru besi itu justru mengenai beberapa mahasiswa. Mahasiswa pun kocar-kacir pergi menyelamatkan diri. Hingga akhirnya, empat mahasiswa gugur dalam peristiwa ini. Mereka adalah Elang Mulia Lesmana (1978-1998), Heri Hertanto (1977-1998), Hafidin Royan (1976-1998), dan Hendriawan Sie (1975-1998). Sedangkan mahasiswa lainnya mengalami luka-luka dan dibawa ke RS Sumber Waras.

Atas dasar hal-hal itu, sidang paripurna pun digelar. Harmoko yang kala itu menjabat sebagai Ketua DPRLMPR menyampaikan bahwa pihaknya akan menggelar sidang paripurna pada 19 Mei 1998.

Sejumlah tokoh turut diundang ke Istana untuk berdiskusi soal masalah ini. Mereka adalah Emha Ainun Nadjib, Megawati, Amien Rais, Yusril Ihza Mahendra, Nurcholis Madjid, dan tokoh lainnya. Hingga hasilnya, pada hari Kamis, 21 Mei 1998, Soeharto menyatakan bahwa dia melepaskan jabatannya sebagai Presiden.

“Saya memutusken untuk menyataken berhenti dari jabatan saya sebagai Presiden Republik Indonesia terhitung sejak saya bacaken pernyataan ini, pada hari ini, Kamis 21 Mei 1998,” ungkap Presiden Soeharto kala itu.

Soeharto pun lengser dari jabatannya, dan disambut dengan meriah oleh masyarakat Indonesia.

Akan tetapi, Soeharto masih tetap merupakan salah satu presiden terbaik yang dimiliki Indonesia. Jasanya itu lah yang kemudian menjadi momen lahirnya hari reformasi pula.

- Advertisement -
Ikuti kami di Google News lalu klik ikon bintang. Atau kamu juga bisa follow WhatsaApp Holopis.com Channel untuk dapat update 10 berita pilihan redaksi dan breaking news.
0 Shares
💬 Memuat kolom komentar Facebook...
Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut

Berita Terkait

Berita Terkait

Berita Terbaru

holopis