Uskup Agung Jakarta Sebut Hasto Temukan Makna Retret Spiritual di Tahanan

8 Shares

JAKARTA – Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan (PDIP) Hasto Kristiyanto merasa masa penahannnya di Rutan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sebagai tempat untuk retreat. Rutan KPK itu bahkan dianggap Hasto sebagai sebuah tempat memurnikan diri.

Demikian disampaikan Uskup Agung Jakarta, Kardinal Ignatius Suharyo usai membesuk Hasto selama kurang lebih satu jam di Rutan KPK, Kuningan, Jakarta, Senin (14/4). Dalam dialognya dengan Suharyo, Hasto Kristiyanto menyebut masa tahanannya sebagai waktu untuk “retret” – momen memurnikan diri melalui doa, refleksi, dan aktivitas spiritual.

- Advertisement -Hosting Terbaik

“Mas Hasto merasa bahwa ini adalah masa untuk retret. Kata retret dipakai untuk memurnikan diri,” ucap Kardinal Suharyo, seperti dikutip Holopis.com.

Hasto mengisi hari-harinya dengan berdoa, membaca Kitab Suci, olahraga, menulis, dan berdiskusi dengan sesama tahanan. “Maka acaranya (Hasto di dalam rutan KPK) harian adalah pagi bangun, berdoa, doa-doa yang tidak sempat diucapkan pada waktu beliau masih aktif, itu sekarang ada kesempatannya untuk mendoakannya secara lengkap,” tutur Kardinal Suharyo.

- Advertisement -

“Membaca kitab suci, olahraga, menulis, berpikir, refleksi, diskusi, itu dilakukan di dalam tahanan ini bersama dengan teman-teman,” ditambahkan Kardinal.

Menurut Kardinal, Hasto justru membuat suasana di rumah tahanan menjadi hidup. Dimana, sesama tahanan juga selalu didukung untuk tidak merasa dalam keterbatasan.

“Jadi bukan sesuatu yang tidak berarti tetapi justru diartikan. Kan tidak mudah ya mengartikan sesuatu yang tidak menyenangkan itu. Tetapi itulah yang ditemukan oleh Pak Hasto di dalam rumah tahanan ini, menemukan waktu untuk berdoa, menemukan waktu untuk berdiskusi, dan menulis refleksi-refleksi yang buah-buah dari peristiwa ini,” kata Kardinal Suharyo.

Hasto juga disebut melakukan puasa selama tiga hari tiga malam selama di Rutan KPK. Menurut Kardinal, puasa yang dilakukan Hasto itu termasuk ekstrim dan tidak semua orang bisa lakukan.

“Salah satu yang boleh dikatakan ekstrim adalah menjalankan puasa 3 hari 3 malam tidak makan dan tidak minum. Itu sesuai dengan salah satu tokoh di dalam kitab suci yang namanya Ester, 3 hari 3 malam, saya itu tidak makan setengah hari saja pusing. Itu satu,” ucap Kardinal.

Mereka juga berdiskusi tentang doa umat Kristen dalam kesulitan. “Biasanya orang minta dibebaskan dari kesulitan, tapi doa yang kami bahas justru memohon kekuatan untuk mewartakan kebenaran,” kata dia.

- Advertisement -
Ikuti kami di Google News lalu klik ikon bintang. Atau kamu juga bisa follow WhatsaApp Holopis.com Channel untuk dapat update 10 berita pilihan redaksi dan breaking news.
8 Shares
💬 Memuat kolom komentar Facebook...
Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut

Berita Terkait

Berita Terkait

Berita Terbaru

holopis