Miris, Warga Gaza Saat Ini Lebih Butuh Harapan Ketimbang Makanan

4 Shares

JAKARTA – Di Gaza saat ini, harapan merupakan sebuah komoditas yang lebih berharga daripada roti. Keduanya telah menjadi sangat langka. Saat berjalan di sepanjang garis pantai ini, yang dulunya merupakan tempat rekreasi yang semarak di Gaza City, terasa seperti berjalan di tepi luka yang berdarah.

Setiap lempengan beton dan setiap potongan besi tulangan beton (rebar) yang bengkok menandai sebuah tempat, di mana kehidupan pernah berkembang, yang kini terkubur di bawah reruntuhan. Seorang wanita muda Palestina, Sajida Ayesh, menatap ke arah ombak kelabu yang bergejolak.

- Advertisement -

“Saya biasa mengajak keponakan-keponakan saya ke sini,” katanya, dikutip Holopis.com, Rabuu (9/4).

“Kini, bahkan suara laut terdengar berbeda. Kedengarannya seperti sedang berkabung,” lanjutnya.

- Advertisement -

Kata-katanya menggambarkan kesedihan mendalam yang telah menyelimuti tempat ini. Runtuhnya gencatan senjata, sebuah jeda singkat yang rapuh dalam tragedi yang tak kunjung usai, memadamkan secercah harapan yang sempat menembus kegelapan.

Gencatan senjata yang dimulai pada 19 Januari bukanlah perdamaian yang terstruktur, melainkan sebuah upaya putus asa untuk bertahan setelah pertumpahan darah tanpa henti yang berlangsung selama 15 bulan sejak Oktober 2023. Selama beberapa pekan, gencatan senjata itu menawarkan seberkas harapan untuk menjalani kehidupan normal.

Keluarga-keluarga yang mengungsi tidak kembali ke rumah yang mereka kenal, tetapi ke puing-puing di mana jalan-jalan dan komunitas yang dulunya bertetangga pernah berkembang.

Sebelum fajar pada 18 Maret, gencatan senjata runtuh. Dalam eskalasi yang cepat dan brutal, pasukan Israel melancarkan serangan besar-besaran ke Gaza, dengan sejumlah saksi mata dan laporan lokal mengindikasikan bahwa sekitar 80 serangan udara menghantam dalam hitungan menit, menjerumuskan wilayah tersebut kembali ke dalam siklus perang total yang familier. Waktu kejadiannya pun semakin memperparah tragedi itu.

Serangan-serangan ini terjadi saat bulan Ramadan, bulan suci bagi umat Muslim untuk menjalankan ibadah puasa dan bermuhasabah diri, dimulai sekitar waktu sahur.

“Segalanya berubah drastis… Benar-benar seperti neraka,” kenang Hanan Muhanna, seorang wanita yang berlindung di Gaza City. Keluarganya berhasil melarikan diri, tetapi banyak tetangganya yang terjebak maupun terbunuh.

Serangan terbaru Israel, yang digambarkan oleh sejumlah pejabat sebagai hal yang esensial untuk tujuan keamanan dan dilaporkan dilakukan dengan dukungan penuh dari Washington, telah terbukti meluas dan mematikan. Otoritas kesehatan Gaza melaporkan lebih dari 1.000 kematian sejak 18 Maret, menambah total korban yang tewas sejak Oktober 2023 menjadi lebih dari 50.000 jiwa.

Akses terhadap pasokan penting telah terputus total selama lebih dari sebulan. Sebelumnya pada pekan ini, Program Pangan Dunia (World Food Programme/WFP) mengonfirmasi bahwa seluruh 25 pabrik roti yang didukung Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di seluruh Gaza telah berhenti beroperasi, pasokan tepung dan bahan bakar mereka diblokir, sehingga masyarakat berada di ambang kelaparan.

“Roti adalah segalanya di sini. Dan kini itu sudah lenyap,” tutur Woroud Abdul Hadi, seorang ibu dari lima anak.

“Kami semua memiliki harapan dengan adanya gencatan senjata. Tetapi mengapa penderitaan ini terus berlanjut? Apakah kami masih layak untuk berharap?” lanjutnya.

Sebagai informasi, saat ini pasukan Israel melanjutkan serangan mereka setelah gencatan senjata dengan Hamas dihentikan. Israel mengklaim bahwa ini cara mereka agar Hamas melepaskan para sandera. Sementara Hamas mengatakan Israel tak mau menyetujui perjanjian gencatan senjata permanen.

- Advertisement -
Ikuti kami di Google News lalu klik ikon bintang. Atau kamu juga bisa follow WhatsaApp Holopis.com Channel untuk dapat update 10 berita pilihan redaksi dan breaking news.
4 Shares
💬 Memuat kolom komentar Facebook...
Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut

Berita Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

holopis