JAKARTA – Di tengah gemuruh modernitas dan perubahan gaya hidup yang serba cepat, tradisi perayaan Idul Fitri tetap menjadi jangkar budaya yang kuat. Salah satu elemen tak terpisahkan dari perayaan ini adalah ketupat.
Bukan sekadar hidangan istimewa, ketupat menyimpan makna mendalam yang terus relevan hingga kini dan diprediksi akan tetap menjadi simbol penting di masa depan.
Secara historis, ketupat diyakini memiliki akar yang kuat dalam tradisi Jawa pra-Islam, kemudian diadaptasi dan diintegrasikan dengan nilai-nilai Islam. Sunan Kalijaga, salah satu Wali Songo, disebut-sebut sebagai tokoh yang mengenalkan ketupat sebagai bagian dari perayaan Lebaran.
Bentuknya yang segi empat melambangkan empat arah mata angin, merepresentasikan konsep kiblat papat limo pancer yang mengandung makna keseimbangan dan harmoni dalam kehidupan. Anyaman janur kuning yang rumit mencerminkan kompleksitas kehidupan manusia, namun tetap terjalin erat menjadi satu kesatuan.
Di masa kini dan masa depan, makna ketupat bertransformasi namun tidak kehilangan esensinya. Di tengah kesibukan dan individualisme, ketupat menjadi pengingat akan pentingnya kebersamaan dan silaturahmi.
Proses pembuatan ketupat yang melibatkan banyak orang, mulai dari menganyam janur hingga memasak beras, secara simbolis merefleksikan semangat gotong royong dan kebersamaan yang menjadi nilai luhur bangsa Indonesia.
Lebih dari itu, ketupat juga menyimpan harapan dan optimisme. Beras yang terbungkus rapat dalam anyaman janur, kemudian matang dan mengembang menjadi simbol kesucian dan keberkahan setelah menjalani ibadah puasa Ramadan. Di masa depan, di mana tantangan hidup mungkin semakin kompleks, simbol harapan ini akan semakin relevan.
Ketupat akan terus menjadi representasi visual dari harapan akan masa depan yang lebih baik, keberkahan yang melimpah, dan hubungan antarmanusia yang semakin erat.
Adaptasi juga menjadi kunci keberlangsungan makna ketupat.
Meskipun bentuk tradisional tetap dipertahankan, inovasi dalam penyajian dan variasi isian ketupat menunjukkan bahwa tradisi ini mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan esensinya. Ketupat tidak hanya menjadi hidangan rumahan, tetapi juga hadir dalam berbagai kreasi kuliner modern, memperkaya khazanah kuliner Indonesia.
Dengan demikian, ketupat Lebaran bukan sekadar makanan tradisional. Ia adalah simbol budaya yang kaya makna, perekat sosial, dan pembawa harapan.
Di masa depan, di tengah dinamika perubahan global, ketupat akan terus menjadi pengingat akan nilai-nilai luhur bangsa Indonesia, mempererat tali silaturahmi, dan membawa semangat optimisme dalam menyambut masa depan.

