JAKARTA – Peningkatan jumlah penumpang saat musim mudik Lebaran kerap terjadi di setiap tahunnya di seluruh moda transportasi, tak terkecuali penyeberangan dengan kala fery.
Namun, sangat disayangkan ketika momen tersebut justru dimanfaatkan oleh segelintir oknum dalam meraup keuntungan dari para penumpang yang menggunakan moda transportasi tersebut.
Seperti pantauan Holopis.com saat menggunakan moda transportasi penyeberangan kapal ferry dari pelabuhan Merak menuju Pelabuhan Bakauheni. Dimana redaksi menggunakan kapal Raputra Jaya 88 untuk menyeberangan ke pulau Sumatera.
Dimana dalam penyeberangan kali ini, seluruh penyeberangan diarahkan menggunakan kelas reguler. Hal itu dikarenakan kebijakan dari pemerintah bersama PT ASDP Persero untuk meniadakan penyeberangan kelas eksekutif.
Aksi pungutan liar ini mulai terjadi ketika para penumpang baik pejalan kaki maupun yang menggunakan kendaraan sudah memasuki kapal. Dimana nampak sejumlah pria yang berpakaian biasa dan celana pendek awalnya membantu kendaraan saat parkir.
Namun, mereka kemudian sembari menawarkan para penumpang untuk menggunakan fasilitas kamar yang ada di kamar tersebut. Dengan harga berkisar antara Rp 10 ribu hingga Rp 250 ribu pun ditawarkan oleh para calo tidak resmi tersebut.
Pantauan Holopis.com di atas kapal pun, berbagai aksi pungutan liar juga banyak terjadi. Dimana sejumlah tikar yang sengaja digelar di sepanjang lorong pun menjadi bahan ‘jualan’ segelintir oknum.
Jika para penumpang tidak mau mengeluarkan uang, mereka pun harus rela naik ke bagian atas kapal dengan kapasitas yang sangat terbatas tempat duduknya.
Alhasil, ratusan penumpang pun harus rela duduk di geladak kapal yang sedianya digunakan untuk tempat parkir mobil.
Upaya pungli juga terjadi dengan memanfaatkan fasilitas kamar yang ada di dekat ruang nahkoda. Dimana ruangan itu sempat dihargai Rp 250 ribu per orangnya.
“Biasanya memang sekali setahun kami buka kamar ini,” ucap salah seorang petugas yang enggan disebutkan namanya.
Selain itu, seluruh pungutan tersebut terbilang tidak resmi dikarenakan tidak ada tanda terima yang diberikan kepada penumpang ketika harus membayar fasilitas tersebut.
Pemandangan seperti itu sendiri berbeda jauh dengan fasilitas eksekutif yang terbilang lebih manusiawi meski harus merogoh kocek lebih mahal.


