JAKARTA – Suasana hangat dan penuh kebersamaan terasa di Benteng Kuto Besak, Palembang, saat 1,3 ton rendang sapi dan ayam dibagikan secara gratis kepada warga pada Kamis (27/3).
Tak ada rebutan, tak ada dorong-dorongan—hanya warga yang tertib, sabar, dan penuh etika menikmati hidangan lezat khas Sumatera Selatan ini.
Acara ini digagas oleh Ketua Umum DPP Gerakan Cinta Rakyat (Gencar) Indonesia, Charma Afrianto, sebagai bentuk pembuktian bahwa masyarakat Palembang memiliki budaya yang tertib dan beradab, jauh dari kesan buruk yang sempat muncul akibat video viral konten kreator Willie Salim.
“Alhamdulillah acara berbagi rendang dan ayam sebanyak 1,3 ton terlaksana. Kami (warga Palembang) membuktikan kepada seluruh masyarakat Indonesia bahwa masyarakat Kota Palembang itu beradab, tertib, dan ramah,” tegas Charma dalam keterangan yang dikutip Holopis.com, Jumat (28/3).
Sebelumnya, video yang diunggah oleh Willie Salim pada 18 Maret 2024 sempat mencoreng citra masyarakat Palembang.
Dalam video tersebut, Willie yang memasak 200 kg rendang mengaku kaget karena makanannya ludes dalam 1 menit saat ia meninggalkan lokasi. Video ini kemudian menimbulkan opini negatif dari netizen, yang menganggap warga Palembang rakus dan tak beradab.
Namun, acara makan rendang gratis ini membalikkan anggapan tersebut. Warga antre dengan tertib, menikmati makanan bersama tanpa berebut, serta menunjukkan keramahan dan sikap santun.
“Kami ingin menunjukkan bahwa masyarakat Palembang itu berbudaya, tertib, dan penuh kebersamaan. Apa yang terjadi hari ini adalah bukti nyata bahwa anggapan negatif yang muncul dari video viral itu tidak benar,” tegas Charma Afrianto.
Acara ini juga mendapat dukungan dari berbagai pihak, termasuk Dinas Pariwisata Palembang, TNI/Polri, serta organisasi masyarakat.
Kepala Dinas Pariwisata Palembang, Sulaiman Amin, menyatakan bahwa kegiatan ini menjadi bukti bahwa warga Palembang tetap menjunjung tinggi etika dan budaya lokal.
“Hari ini, 300 kilogram rendang dimasak di Benteng Kuto Besak, dan semuanya berjalan tertib. Ini adalah bukti bahwa citra Palembang yang dianggap negatif akibat video viral sebelumnya, tidak benar,” ungkap Sulaiman.
Sementara itu, Ketua Pelaksana Bima Yoga menegaskan bahwa acara ini merupakan wujud solidaritas antara pemerintah, ormas, dan masyarakat dalam menghadapi isu negatif yang beredar.
“Kami ingin menunjukkan bahwa masyarakat Palembang tidak seperti yang digambarkan dalam video tersebut. Justru sebaliknya, Palembang adalah kota yang berbudaya, ramah, dan penuh kebersamaan,” jelas Bima.
Acara berbagi rendang ini bukan hanya sekadar makan bersama, tetapi juga menjadi simbol kebersamaan dan pembuktian bahwa satu video tidak bisa mendefinisikan karakter seluruh masyarakat sebuah kota.
Palembang tetaplah kota yang berbudaya, tertib, dan penuh etika. Dan hari ini, dengan ribuan porsi rendang yang dinikmati secara damai, Palembang telah membuktikannya.


