Benarkah Puasa Bisa Turunkan Gairah Seksual? Ini Penjelasannya


Oleh : Darin Brenda Iskarina

JAKARTA - Banyak orang percaya bahwa berpuasa dapat menurunkan gairah seksual karena tubuh tidak mendapatkan asupan makanan dan minuman sepanjang hari. Namun, benarkah puasa benar-benar berpengaruh terhadap hasrat seksual, atau ini hanya sekadar mitos?

Bulan Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar dan haus, tetapi juga menahan hawa nafsu, termasuk nafsu seksual. Selama seharian tidak makan dan minum, tubuh mengalami berbagai perubahan, termasuk dalam sistem hormon dan metabolisme.

Beberapa orang merasakan penurunan gairah seksual saat berpuasa, tetapi ada juga yang tidak merasakan perubahan signifikan.

Bagaimana Puasa Mempengaruhi Hormon Seksual?

Gairah seksual sangat dipengaruhi oleh hormon dalam tubuh, terutama hormon testosteron pada pria dan estrogen pada wanita. Saat seseorang berpuasa, tubuh mengalami penyesuaian metabolisme, yang pada beberapa kondisi dapat berpengaruh terhadap kadar hormon ini.

Ketika tubuh kekurangan energi karena tidak makan dan minum dalam waktu lama, produksi hormon tertentu bisa menurun. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa puasa dapat sedikit menurunkan kadar testosteron, tetapi efek ini bersifat sementara. Setelah berbuka dan tubuh kembali mendapatkan nutrisi, hormon ini akan kembali ke tingkat normal.

Namun, efek puasa terhadap hormon bisa berbeda-beda pada setiap orang. Faktor lain seperti stres, kurang tidur, dan pola makan setelah berbuka juga dapat berpengaruh terhadap keseimbangan hormon dalam tubuh.

Apakah Puasa Bisa Menekan Gairah Seksual?

Secara umum, puasa dapat membantu mengendalikan hawa nafsu karena tubuh dalam kondisi lebih lemah dibanding biasanya. Saat energi terbatas, tubuh lebih fokus pada fungsi dasar untuk bertahan hidup daripada memenuhi kebutuhan seksual. Inilah yang membuat beberapa orang merasakan penurunan gairah seksual selama berpuasa.

Selain faktor fisik, ada juga faktor psikologis yang berperan. Ramadan adalah bulan di mana umat Muslim lebih fokus pada ibadah dan meningkatkan ketakwaan. Ketika seseorang lebih banyak beribadah, pikiran mereka cenderung lebih terjaga dari hal-hal yang dapat membangkitkan gairah seksual.

Kapan Gairah Seksual Kembali Normal?

Setelah berbuka puasa dan tubuh kembali mendapatkan nutrisi, kadar energi dan hormon dalam tubuh mulai meningkat. Ini bisa menyebabkan gairah seksual kembali seperti semula di malam hari. Itulah mengapa banyak pasangan suami istri yang memilih waktu setelah berbuka atau sebelum sahur untuk berhubungan intim, karena tubuh sudah lebih bertenaga dan hormon sudah kembali stabil.

Namun, penting untuk tetap menjaga keseimbangan dalam memenuhi kebutuhan biologis selama Ramadan. Islam memberikan aturan bahwa hubungan suami istri hanya boleh dilakukan di malam hari, dan di siang hari pasangan harus menahan diri agar ibadah puasa tetap terjaga.

Bagaimana Cara Mengatasi Jika Gairah Seksual Masih Tinggi Saat Puasa?

Bagi yang masih merasakan dorongan seksual yang cukup tinggi saat berpuasa, ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mengendalikannya. Salah satunya adalah dengan menghindari hal-hal yang bisa memicu gairah, seperti tontonan yang tidak pantas atau percakapan yang mengarah ke hal-hal sensual.

Selain itu, menyibukkan diri dengan aktivitas ibadah seperti membaca Al-Qur’an, berzikir, dan mengikuti kajian Ramadan juga bisa membantu mengalihkan perhatian. Menjaga pola makan saat sahur dan berbuka juga penting, karena makanan yang tinggi lemak atau terlalu banyak gula bisa meningkatkan energi secara berlebihan dan berpotensi memengaruhi gairah seksual.

Puasa memang dapat memengaruhi gairah seksual, tetapi efeknya bisa berbeda pada setiap orang. Ada yang merasakan penurunan hasrat karena perubahan hormon dan energi tubuh yang lebih rendah, tetapi ada juga yang tetap merasakan gairah yang sama. Yang terpenting adalah bagaimana seseorang mengendalikan diri selama berpuasa, sehingga tetap bisa menjalankan ibadah dengan khusyuk tanpa terganggu oleh godaan hawa nafsu.

Tampilan Utama