JAKARTA – Sebanyak ratusan ribu orang turun ke ibu kota Serbia pada hari Sabtu (17/3) untuk protes kematian 15 orang akibat runtuhnya stasiun kereta api. Runtuhnya Novi Sad pada November lalu telah membuat masyarakat marah kepada pemerintahan Presiden Aleksandar Vucic.
Aksi protes ini disebut sebagai aksi protes terbesar di Serbia. Pemerintah Serbia memperkirakan jumlah pengunjuk rasa mencapai 107.000 orang di seluruh Belgrade. Sementara itu pemantau independen memperkirakan ada 325.000 orang sudah berkumpul.
Seorang mahasiswa yang ikut aksi protes mengatakan bahwa mereka hanya ingin negara mereka berfungsi dengan baik.
“Kami hanya menginginkan negara yang berfungsi,” demikian disampaikan seorang mahasiswa hukum bernama Jana Vasic, dikutip Holopis.com, Senin (17/3).
Ia mengatakan ingin sebuah lembaga yang menjalankan tugasnya dengan baik. Mereka tidak memerdulikan partai mana berkuasa dan hanya menuntut kinerja.
“Kami menginginkan lembaga yang menjalankan tugasnya dengan baik. Kami tidak peduli partai mana yang berkuasa. Namun, kami membutuhkan negara yang berfungsi,” lanjut mereka.
Menurut para pengunjuk rasa, bencana tersebut mencerminkan lebih dari satu dekade pemerintahan oleh Partai Progresif Vucic, yang berkaitan dengan renovasi stasiun baru-baru ini.
Serbia Dipenuhi Pengunjuk Rasa
Lokasi Republic Square yang menjadi titik pertemuan di sekitar ibu kota Serbia menjadi penuh karena pengunjuk rasa di hari Sabtu (15/3). Sebagian pengunjuk rasa berlindung di alas patung Pangeran Mihajlo.
Sementara itu pengunjuk rasa lainnya mengantre di sepanjang jalan di depan Museum Nasional, yang membentang hingga ke Students Square.
Sebagai informasi, Arsip Pertemuan Publik mengatakan ada 275.000 hingga 325.000 menghadiri protes. Jumlah pengunjuk rasa diperkirakan akan terus bertambah.

