JAKARTA – Lebaran selalu identik dengan momen berkumpul bersama keluarga besar. Namun, di balik kebersamaan itu, ada satu hal yang sering menjadi momok bagi generasi milenial dan Gen Z, yaitu pertanyaan-pertanyaan maut dari keluarga. Entah dari om, tante, kakek, nenek, atau bahkan tetangga, pertanyaan-pertanyaan ini sering kali membuat suasana menjadi canggung atau bahkan menambah beban pikiran.
Meskipun terkadang niat mereka baik, bagi milenial dan Gen Z, pertanyaan ini bisa terasa menekan, membuat tidak nyaman, atau bahkan menyentuh hal-hal yang sensitif. Nah, berikut ini adalah enam pertanyaan maut yang paling sering diucapkan saat Lebaran, beserta alasan mengapa pertanyaan ini bisa terasa mengganggu.
1. “Kapan Nikah?”
Ini adalah pertanyaan klasik yang selalu muncul setiap Lebaran. Jika Sobat Holopis sudah punya pasangan, pertanyaan ini bisa terasa seperti tekanan untuk segera menikah. Tapi jika masih single, rasanya seperti diingatkan bahwa waktu terus berjalan dan keluarga mulai “khawatir” dengan status hubungan.
Kenapa ini mengganggu?
- Tidak semua orang siap menikah dalam waktu dekat.
- Hubungan adalah urusan pribadi yang tidak bisa dipaksakan oleh tekanan sosial.
- Tidak semua orang menemukan pasangan dengan cepat, dan itu tidak masalah.
Cara Menghadapinya:
- Jawab dengan santai, seperti, “Doain aja yang terbaik, ya!”
- Jika ingin mengalihkan pembicaraan, bisa bilang, “Eh, ngomong-ngomong, kapan liburan keluarga lagi nih?”
2. “Kerja di mana sekarang?”
Bagi yang sudah bekerja, pertanyaan ini mungkin tidak terlalu mengganggu. Tapi bagi yang masih mencari pekerjaan atau sedang menghadapi tantangan di dunia kerja, ini bisa terasa seperti tekanan tambahan.
Kenapa ini mengganggu?
- Tidak semua orang memiliki pekerjaan tetap atau sesuai dengan harapan keluarga.
- Bagi yang sedang mencari kerja, pertanyaan ini bisa terasa seperti pengingat kegagalan.
- Beberapa orang mungkin bekerja di bidang yang kurang dipahami oleh generasi tua, sehingga menjelaskannya bisa melelahkan.
Cara Menghadapinya:
- Jika merasa tidak ingin menjawab, bisa bilang, “Masih terus belajar dan mencari pengalaman, doain aja!”
- Jika sudah bekerja tapi malas menjelaskan, bisa jawab dengan simpel, “Di perusahaan digital, gitu deh!”
3. “Gajinya Berapa?”
Pertanyaan ini bisa sangat mengintimidasi, terutama karena urusan keuangan sering kali dianggap sebagai hal yang pribadi. Tidak semua orang nyaman membicarakan pendapatan mereka, apalagi jika dibandingkan dengan saudara lain.
Kenapa ini mengganggu?
- Gaji bukan sesuatu yang harus diumbar ke semua orang.
- Bisa menimbulkan perbandingan yang tidak sehat antara saudara atau teman sebaya.
- Beberapa orang mungkin masih berjuang dengan kondisi finansialnya.
Cara Menghadapinya:
- Bisa jawab dengan bercanda, “Rahasia dong, nanti jadi iri!”
- Atau cukup jawab, “Cukup buat makan dan nabung dikit lah!”
4. “Kuliah/Kerja Jauh, Kapan Pulang ke Rumah?”
Bagi yang merantau, pertanyaan ini bisa terasa berat, apalagi jika ada alasan tertentu yang membuat mereka sulit pulang lebih sering.
Kenapa ini mengganggu?
- Tidak semua orang punya fleksibilitas untuk sering pulang.
- Bisa menimbulkan perasaan bersalah karena tidak bisa selalu ada untuk keluarga.
- Ada alasan finansial, pekerjaan, atau kehidupan pribadi yang mungkin membuat seseorang tidak bisa pulang kapan pun mereka mau.
Cara Menghadapinya:
- Jawab dengan, “Doain aja ada rezeki lebih, nanti bisa sering pulang!”
- Jika ingin lebih santai, bisa bilang, “Kalau ada tiket gratis, pasti pulang deh!”
5. “Kok Masih Sendiri Aja?”
Mirip dengan pertanyaan kapan nikah, namun lebih menyentuh status hubungan seseorang. Ini bisa terasa menyebalkan, terutama bagi mereka yang baru putus, belum menemukan orang yang tepat, atau memang menikmati hidup sendiri.
Kenapa ini mengganggu?
- Tidak semua orang ingin atau siap berkomitmen dalam hubungan.
- Bisa terasa seperti menekan seseorang untuk segera mencari pasangan.
- Beberapa orang mungkin sedang dalam fase penyembuhan atau fokus pada karier dan pengembangan diri.
Cara Menghadapinya:
- Jawab dengan bercanda, “Lagi seleksi yang terbaik nih!”
- Atau lebih santai, “Belum ketemu yang cocok, doain aja!”
6. “Kapan Beli Rumah/Mobil?”
Di era sekarang, harga properti dan kendaraan semakin mahal, sementara pendapatan tidak selalu sebanding. Pertanyaan ini bisa membuat seseorang merasa tertinggal dalam pencapaian hidup mereka.
Kenapa ini mengganggu?
- Generasi milenial dan Gen Z menghadapi tantangan ekonomi yang berbeda dibanding generasi sebelumnya.
- Tidak semua orang menjadikan rumah atau mobil sebagai prioritas utama.
- Bisa menambah tekanan finansial, terutama bagi yang masih dalam tahap menabung atau investasi lain.
Cara Menghadapinya:
- Jawab dengan santai, “Masih nabung pelan-pelan, doain lancar!”
- Atau lebih humoris, “Nunggu menang undian dulu, hehe!”
Lebaran seharusnya menjadi momen yang menyenangkan dan penuh kebersamaan, bukan ajang interogasi yang membuat stres. Jika Sobat Holopis sering mendapat pertanyaan-pertanyaan seperti ini, hadapi dengan santai dan jangan terlalu dipikirkan.
Setiap orang punya perjalanan hidupnya sendiri, dan tidak ada yang berhak menentukan kapan seseorang harus menikah, punya pekerjaan tertentu, atau membeli sesuatu.
Jadi, jika tahun ini Sobat Holopis ditanya salah satu dari enam pertanyaan maut di atas, cukup senyum, beri jawaban santai, lalu alihkan pembicaraan ke hal yang lebih menyenangkan.

