JAKARTA – Setiap tanggal 5 Maret, Indonesia memperingati hari lahir Sutan Sjahrir, seorang negarawan yang dikenal sebagai Perdana Menteri pertama Indonesia serta tokoh revolusi yang berjuang dengan gagasan dan diplomasi. Ia bukan hanya seorang pemikir yang tajam, tetapi juga seorang pemimpin yang memiliki visi jauh ke depan dalam membangun Indonesia yang demokratis dan berdaulat.
Perjalanan Hidup dan Awal Perjuangan
Sutan Sjahrir lahir pada 5 Maret 1909 di Padang Panjang, Sumatera Barat, dalam keluarga terpelajar. Ayahnya adalah seorang kepala jaksa di pengadilan negeri Medan, sementara kakak tirinya, Rohana Kudus, merupakan jurnalis perempuan pertama di Indonesia. Latar belakang keluarganya yang intelektual membentuk pemikiran Sjahrir sejak muda.
Saat belajar di Belanda, ia aktif dalam pergerakan nasional dan kemudian kembali ke Indonesia untuk terlibat dalam perjuangan kemerdekaan. Tidak seperti Soekarno dan Hatta yang berstrategi dengan bekerja sama dengan Jepang, Sjahrir memilih membangun gerakan bawah tanah anti-fasis karena yakin Jepang pada akhirnya akan kalah dalam Perang Dunia II.
Peran dalam Proklamasi Kemerdekaan
Ketika Jepang menyerah pada 15 Agustus 1945, Sjahrir mendesak Soekarno dan Hatta untuk segera memproklamasikan kemerdekaan sebelum sekutu datang dan menguasai Indonesia. Namun, karena Soekarno dan Hatta masih menunggu keputusan dari Jepang, para pemuda akhirnya menculik mereka dalam Peristiwa Rengasdengklok.
Tekanan dari kelompok pemuda dan dorongan dari gerakan bawah tanah yang dipimpin Sjahrir akhirnya membuat Proklamasi Kemerdekaan terjadi pada 17 Agustus 1945. Setelah proklamasi, Indonesia masih menghadapi ancaman dari Belanda yang ingin kembali berkuasa, sehingga diperlukan strategi diplomasi untuk mendapatkan pengakuan dunia.
Menjadi Perdana Menteri dan Tantangan Diplomasi
Pada 14 November 1945, Sjahrir diangkat sebagai Perdana Menteri pertama Indonesia. Dalam masa jabatannya, ia menghadapi berbagai tantangan, termasuk perundingan dengan Belanda yang ingin kembali menguasai Indonesia. Sjahrir memilih jalan diplomasi untuk meyakinkan dunia bahwa Indonesia adalah negara yang sah dan berdaulat.
Namun, strategi diplomasi ini tidak diterima oleh semua pihak. Kelompok revolusioner yang dipimpin oleh Tan Malaka menganggap langkah Sjahrir terlalu lunak terhadap Belanda. Puncaknya, pada 26 Juni 1946, Sjahrir diculik oleh kelompok oposisi yang tidak puas dengan perundingan pemerintah dengan Belanda. Setelah pembebasannya, ia tetap berusaha melanjutkan perjuangan melalui jalur diplomasi.
Mendirikan Partai Sosialis dan Akhir Karier Politik
Setelah tidak lagi menjadi Perdana Menteri, Sjahrir mendirikan Partai Sosialis Indonesia (PSI) pada 1948 sebagai wadah perjuangan politiknya. Partai ini mengusung gagasan sosialisme demokratis yang menolak sistem kediktatoran. Namun, dalam Pemilu 1955, PSI gagal mendapatkan dukungan signifikan.
Tahun 1960, Presiden Soekarno membubarkan PSI, dan hubungan Sjahrir dengan pemerintahan semakin memburuk. Pada 1962, ia ditangkap tanpa pengadilan dan dipenjara hingga kesehatannya memburuk akibat stroke. Setelah tiga tahun dalam tahanan, ia akhirnya diizinkan untuk berobat ke Zürich, Swiss, namun tak lama kemudian ia meninggal dunia pada 9 April 1966.
Gelar Pahlawan Nasional dan Warisannya
Pada hari wafatnya, pemerintah Indonesia mengakui jasanya dengan menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional melalui Keppres Nomor 76 Tahun 1966. Kini, Sutan Sjahrir dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta, sebagai bentuk penghormatan atas dedikasi dan perjuangannya.

