BRIN Jelaskan Peran Ilmu Astronomi Dalam Tentukan Awal Bulan Hijriah

0 Shares

JAKARTA – Penentuan awal bulan Hijriah, terutama bulan Ramadan, Syawal, dan Dzulhijjah, merupakan salah satu hal yang selalu menjadi perhatian umat Islam di seluruh dunia. Ilmu astronomi dan metode rukyat menjadi dua pendekatan utama dalam penetapan hilal.

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Thomas Djamaludin, menjelaskan bahwa ilmu astronomi dan ilmu falak berperan penting dalam menentukan posisi hilal secara ilmiah.

- Advertisement -Hosting Terbaik

Menurut Thomas, astronomi adalah ilmu yang mempelajari benda-benda langit, termasuk pergerakan matahari dan bulan, sedangkan ilmu falak merupakan bagian dari astronomi yang dikaitkan dengan dalil-dalil syariah untuk keperluan ibadah umat Islam.

“Dalam menentukan hilal, ilmu astronomi digunakan untuk menghitung posisi bulan, tinggi hilal, serta jarak bulan dari matahari untuk memprediksi apakah hilal dapat teramati atau tidak,” ujar Thomas dalam keterangan persnya, seperti dikutip Holopis.com, Selasa (25/2).

- Advertisement -

Ia menambahkan bahwa dalam Islam, penentuan awal bulan Hijriah awalnya dilakukan melalui metode rukyat atau pengamatan hilal langsung. Hal ini didasarkan pada hadis Nabi Muhammad SAW yang artinya berpuasalah jika melihat hilal dan berbukalah jika melihat hilal.

Seiring perkembangan ilmu pengetahuan, metode hisab atau perhitungan astronomi mulai digunakan untuk memperkirakan posisi hilal sebelum dilakukan pengamatan. Thomas pun menegaskan bahwa metode hisab telah berkembang sangat pesat dan memiliki tingkat akurasi tinggi.

“Saat ini, perhitungan astronomi sudah sangat akurat, bahkan untuk gerhana matahari atau bulan dapat dihitung hingga hitungan detik,” jelasnya.

Namun, ia juga mengingatkan bahwa meskipun hisab sangat akurat, sebagian besar umat Islam masih menginginkan pembuktian dengan rukyat.

Perbedaan penetapan awal bulan Hijriah sering kali bukan disebabkan oleh perbedaan metode hisab dan rukyat, melainkan karena adanya perbedaan kriteria yang digunakan oleh berbagai organisasi Islam dan pemerintah.

Di Indonesia, misalnya, kriteria yang digunakan oleh pemerintah berbeda dengan Muhammadiyah, tetapi sama dengan beberapa ormas Islam lainnya. Perbedaan inilah yang kemudian menyebabkan adanya perbedaan dalam menentukan awal Ramadan, Idul Fitri, dan Idul Adha.

Selain itu, faktor geografis dan kondisi cuaca juga berpengaruh dalam metode rukyat. Hilal yang sangat tipis dapat terhalang oleh cahaya senja atau cuaca mendung, sehingga sulit diamati dengan mata telanjang.

“Salah satu tantangan terbesar dalam rukyat adalah kontras cahaya. Hilal sangat tipis dan sering kali kalah terang dibandingkan cahaya senja,” kata Thomas.

Untuk mengatasi kendala ini, teknologi astronomi terus dikembangkan guna meningkatkan keakuratan pengamatan hilal. Salah satu teknologi yang kini digunakan adalah teleskop dengan kamera digital dan pemroses citra image stacking, yang dapat meningkatkan kontras citra hilal dengan cara menumpuk ratusan gambar dalam satu frame.

“Teknologi ini memungkinkan hilal yang sangat redup dapat terlihat lebih jelas,” tambahnya.

Thomas juga menjelaskan perbedaan penentuan awal bulan Hijriah antara Indonesia dan Arab Saudi. Secara logika, Indonesia yang berada lebih ke timur seharusnya lebih dulu menetapkan awal bulan. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, Arab Saudi lebih dahulu menetapkan Idul Fitri atau Idul Adha.

“Hal ini lebih disebabkan oleh perbedaan keputusan pemerintah masing-masing negara, bukan karena perbedaan metode hisab atau rukyat,” jelasnya.

Terkait perkembangan terbaru, Thomas mengungkapkan bahwa sejak 2021, pemerintah dan ormas Islam di Indonesia telah memperbarui kriteria penentuan hilal, yakni tinggi minimal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat.

Muhammadiyah yang sebelumnya menggunakan kriteria kalender Hijriah global tunggal kini kembali menggunakan metode wujudul hilal. Meskipun demikian, perbedaan penetapan awal bulan Hijriah kemungkinan tetap akan terjadi.

Prediksi Awal Ramadan 1446 H

Thomas menyampaika, bahwa berdasarkan analisis garis tanggal, posisi bulan di wilayah Indonesia pada tanggal 28 Februari 2025 saat maghrib telah memenuhi kriteria MABIMS.

Namun posisi tersebut hanya terjadi di wilayah Aceh, dengan posisi bulan di Banda Aceh, yakni tinggi toposentrik: 4,5o Elongasi geosentrik: 6,4o. Angka itu sedikit melebihi kriteria MABIMS, yakni Tinggi >3o, elongasi >6,4o.

“Dengan kondisi seperti ini di Aceh, awal Ramadhan di kalender hijriyah adalah 1 Maret 2025,” kata Thomas.

Akan tetapi, karena hanya wilayah Aceh yang telah memenuhi kriteria dan mengingat cuaca mungkin mendung, sehingga ia pun memprediksi awal Ramadan dalam penanggalan hijriah tahun ini akan jatuh pada tanggal 2 Maret 2025.

“Ada kemungkinan gagal rukyat, jadi berpotensi 1 Ramadan jatuh pada 2 Maret 2025,” ujarnya.

Namun demikian, lanjut Thomas, penetapan awal Ramadan 1446 H masih akan menunggu hasil sidang isbat yang akan digelar oleh Kementerian Agama (Kemenag) RI pada tanggal 28 Februari 2025 mendatang.

- Advertisement -
Ikuti kami di Google News lalu klik ikon bintang. Atau kamu juga bisa follow WhatsaApp Holopis.com Channel untuk dapat update 10 berita pilihan redaksi dan breaking news.
0 Shares
💬 Memuat kolom komentar Facebook...
Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut

Berita Terkait

Berita Terkait

Berita Terbaru

holopis