Malam 24 di Roemah Toegoe : Meniti Literasi, Menata Budaya


Oleh : Fisca Dwi Astuti

JAKARTA - Yayasan Rumah Budaya Michiels mengadakan acara pentas budaya “Malam 24 di Roemah Toegoe” yang merupakan suatu bentuk tradisi natal yang unik dengan mengusung tema "Meniti Literasi, Menata Budaya".

Acara yang terinspirasi dari penetapan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI atas Bahasa Kreol (Portugis) Tugu sebagai Warisan Budaya Tak benda (WBTb) dari Jakarta pada 22 Agustus 2024 lalu yang juga merupakan WBTb ke-4 dari Kampung Tugu.

Lisa Michiels selaku Ketua Yayasan Rumah Budaya Michiels sekaligus sebagai pengagas acara tersebut berharap acara yang menjadi bagian dari pelestarian budaya Jakarta ini bisa terus dilaksanakan setiap tahunnya.

"Kiranya acara ini dapat kami laksanakan setiap tahun sebagai bagian dalam melestarikan budaya Jakarta terutama budaya asli Kampung Tugu yang telah memiliki 4 Warisan Budaya Tak benda yang ditetapkan oleh Kemendikbudristek, yakni musik Keroncong (dari) Tugu (2016), Tradisi Rabo-rabo, Tradisi Mande-mande (2019) dan Bahasa Kreol (Portugis) Tugu (2024)," papar Lisa dalam keterangan pers yang diterima oleh Holopis.com, Jumat (27/12).

Tujuan penyelenggaran acara ini sendiri adalah untuk menjaga tradisi Malam Natal di Kampung Tugu yang sudah tidak lagi sepenuhnya dapat dilaksanakan.

Tradisi Orang Tugu pada Malam Natal

Dahulu, orang-orang Tugu setelah beribadah Malam Natal di Gereja Tugu akan melakukan kegiatan “naro kembang” ke makam leluhur di samping Gereja, setelah itu biasanya orang-orang Tugu akan makan malam bersama dengan menu-menu khas seperti gado-gado, sped, sup brenebon (pengaruh alkulturasi Manado) dan lain-lain.

Lalu tepat pukul 12.00 malam, keluarga per keluarga akan melakukan doa bersama yang dilanjutkan dengan saling mengunjungi sambil mengucap salam dalam Bahasa Kreol Tugu “Binti singku dia Disember, masdudi nas sior ja ti mundu. Libra nos pekado unga noti di kinta fera. Assi klar koma dia anji ni nos siordialegria” yang artinya “Pada tanggal 25 Desember, Tuhan kita telah datang ke dunia, untuk menebus dosa, dimalam yang cerah dan bersih, Tuhan memberikan sukacita yang besar.”

Pentas Budaya “Malam 24 di Roemah Toegoe”

Band Marjinal bersama Krontjong Toegoe

Acara ini menampilkan deretan penampilan menarik, mulai dari penampilan utama Krontjong Toegoe dan Krontjong Muda Indonesia yang memukau penonton dengan alunan musik keroncong klasik dan modern.



Selain itu, pengunjung juga dimanjakan dengan penampilan OK Irama Jakarta, Gambang Kromong yang dikemas dengan drama musikal tentang kejayaan Sunda Kelapa Komunitas Kebaya Menari dengan keindahan dan keanggunan gerakannya, Samsara Ntrya yang mebawakan dua tarian “Topeng” dan “Topeng Gegot”.

Ada juga sajian istimewa tarian None Tugu. Acara dibuka dengan penampilan kelompok “The Force band” dan ditutup dengan kehadiran Bintang tamu “Marjinal” yang salah satunya membawakan syair sholawat dalam lagu “Malam Kudus”.

Yang unik dan menarik adalah Ibadah natal sederhana dengan iringan musik Keroncong dan narasi natal dalam Bahasa Kreol Portugis Tugu.

Dalam acara “Malam 24 di Roemah Toegoe” kali ini juga menjadi sangat Istimewa dengan kolaborasi Museum Sejarah Jakarta dan Living Museum Roemah Toegoe yang menampilkan Macina, alat musik mirip ukulele dari Kampung Tugu koleksi kedua museum.

Acara ini diharapkan dapat menjadi wadah apresiasi terhadap seni dan budaya Indonesia, khususnya budaya Betawi, serta meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya melestarikan warisan budaya bangsa.

Tampilan Utama