Kopdar Forsa 2024 Sosialisasi Ancaman Terorisme dan Narkoba Generasi Bangsa


Oleh : Muhammad Ibnu Idris

JAKARTA - Penyanyi dan musisi senior dangdut, Rhoma Irama mengajak para generasi bangsa khususnya Forum Silaturrahmi Antar Anggota FORSA (Fans Rhoma Irana dan Soneta) agar selalu memperkuat semangat menjaga Pancasila sebagai dasar negara.

Ia mengingatkan masyarakat untuk tidak terpengaruh oleh ajakan kelompok radikal yang sering kali menyalahgunakan agama untuk memecah belah bangsa.

"Islam adalah agama yang memuliakan perdamaian dan kemanusiaan. Tidak ada ruang untuk kebencian dan kekerasan dalam ajarannya," kata Rhoma dalam Kopdarnas FORSA 2024 di Bumi Perkemahan Ragunan, Jakarta Selatan, Sabtu (14/12).

Setidaknya, acara ini dihadiri kurang lebih 500 anggota dari seluruh Indonesia dalam sebuah forum diskusi yang mengusung tema besar: komitmen bersama melawan narkoba, intoleransi, radikalisme, dan terorisme.

Kegiatan ini dihadiri oleh berbagai narasumber terkemuka, mulai dari tokoh agama, aparat penegak hukum, hingga mantan pelaku radikalisme, yang memberikan pandangan mendalam tentang ancaman nyata yang dihadapi bangsa Indonesia.

Dalam kesempatan itu, Rhoma juga mengajak masyarakat untuk menjaga keharmonisan dengan saling menghargai perbedaan. Sebagai puncak kontribusinya, ia memimpin deklarasi bersama peserta untuk menolak narkoba, intoleransi, radikalisme, dan terorisme.

Masih dalam kesempatan yang sama, Kasubdit Kontra Narasi pada Densus 88 Anti Teror Mabes Polri AKBP Moh. Dofir memaparkan data terbaru terkait penangkapan terorisme di Indonesia sepanjang tahun 2024.

Ia mengungkapkan bagaimana kelompok teror berkembang dengan pola perekrutan yang lebih sistematis.

"Pelaku terorisme tidak hanya menyasar kelompok tertentu, tetapi juga individu-individu yang mudah dipengaruhi, termasuk generasi muda," jelasnya.

Dofir menekankan pentingnya deteksi dini dan kerja sama masyarakat dalam melaporkan aktivitas yang mencurigakan.

Sementara itu, mantan narapidana terorisme yakni Nasir Abas juga hadir dalam kesempatan tersebit. Ia saat ini berperan sebagai pejuang perdamaian dengan edukasi dan kegiatan kontra radikalisme yang dilakukannya sebagai mantan jaringan radikalis dan teroris.

Dengan penuh emosi, ia menceritakan perjalanan hidupnya dari terjerumus dalam ideologi radikal hingga menyadari kekeliruannya.

"Radikalisme adalah racun yang merusak akal sehat dan nurani. Saya di sini untuk memastikan bahwa generasi berikutnya tidak mengulangi kesalahan yang sama," ungkap Nasir.

Lantas, Direktur Advokasi Deputi Pencegahan BNN Brigjen Pol Jafriedi juga ikut memberikan masukan dalam kegiatan tersebut. Ia menyoroti tentang sisi lain ancaman bangsa, yaitu narkoba. Ia menjelaskan bagaimana narkoba menjadi alat penghancur moral generasi muda.

"Kita tidak bisa melawan narkoba hanya dengan tindakan hukum. Dibutuhkan sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan keluarga dalam menjaga generasi muda dari kehancuran," pesannya.

Tampilan Utama