HOLOPIS.COM, JAKARTA – Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves), Luhut Binsar Pandjaitan mengklaim program hilirisasi mampu membawa dampak positif bagi perekonomian Indonesia. Hal itu disampaikannya dalam acara HUT ke-52 HIPMI di Jakarta, Senin (10/6) kemarin.
Bukti keberhasilan program yang selama ini dikenal sebagai program andalan Presiden Joko Widodo (Jokowi) itu terlihat dari pendapatan ekspor komoditas nikel yang terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun, sejak adanya hilirisasi.
Bahkan di tahun 2030 mendatang, Indonesia diprediksi bisa meraup keuntungan dari hasil ekspor nikel itu sebesar USD 70 miliar, atau setara dengan Rp 1.141 triliun, dengan asumsi kurs Rp 16.300 per Dolar AS.
“Dulu kita ekspor nickel ore (bijih nikel) hanya USD 2 miliar, tahun lalu kita ekspor hampir USD 40 miliar,” kata Luhut dalam keterangannya, seperti dikutip Holopis.com, Selasa (12/6).
“Tahun 2030 dengan turunannya (nikel) sampai pada precursor cathode, semua itu mobil listrik kita akan bisa ekspor USD 70 miliar,” tambahnya.
Luhut menyampaikan, bahwa program hilirisasi kini tidak hanya untuk komoditas nikel, tetapi merembet ke komoditas tambang dan mineral lainnya.
“Kemudian investasi hilirisasi kita masukkan dalam ekosistem. Kita bicara ekosistem, tidak hanya satu arah saja. Jadi semua bahan mineral kita bangun dalam ekosistem yang terpadu dan sekarang itu sudah jalan.
Atas hal itu, kata Luhut, banyak negara barat, termasuk Uni Eropa yang dulu sempat menentang kebijakan larangan ekspor komoditas tambang dan mineral, sekarang ini justru berupaya untuk bernegosiasi.
“Sekarang Uni Eropa juga mau negosiasi dengan kita, mereka yang file (tuntut) kita ke WTO, sekarang mereka mulai berfikir,” terangnya.
Selain itu, Luhut menambahkan, ke depan pemerintah juga berencana untuk melakukan hilirisasi komoditas rumput laut, yang dinilai akan memberikan keuntungan lebih besar lagi bagi Indonesia.
Karenanya, ia meminta para pengusaha muda yang tergabung dalam keanggotaan HIPMI khususnya, untuk mempertimbangkan peluang usaha di sektor tersebut.
“Kita belum bicara tadi mengenai (hilirisasi) seaweed. Seaweed ini jadi negara terbesar di dunia sama seperti nickel ore. Seaweed ini kalau Anda masuk bisnis, saya usulkan ini Anda pertimbangkan,” papar Luhut.
“Seaweed ini sama saja (dengan nikel), karena ini bahan ramah lingkungan, bisa jadi bioetanol, bisa jadi degradable plastic, dan bisa jadi pupuk organik dan lain sebagainya. Sekarang menjadi program pemerintah ke depan ini,” tambahnya lagi.