BerandaOpiniAlam Sudah Bersabda, Perubahan Akan Tiba!

Alam Sudah Bersabda, Perubahan Akan Tiba!

Oleh : Bambang SP /Budayawan.

BACA JUGA

KOCAP kacarita, demikian kata Ki Dalang memulai wawasannnya dalam menceritakan bagaimana perubahan itu terjadi.

ADVERTORIAL SPACE

Sebuah kejadian yang mau bagaimanapun akan terjadi dalam situasi bangsa dan negara yang sedang bergolak. Ini akan selalu terkait dengan tanda-tanda alam. Sebuah kerusakan yang menciptakan keresahan pada masyarakat akan ditangkap dengan sangat teliti oleh alam. Bahkan, sering menghasilkan temuan-temuan baru yang menjelaskan mengapa hal itu terjadi. Bahkan, bila secara cermat diamati, kondisi ini menemukan kesimpulan-kesimpulan yang dapat mencengangkan.

Beberapa saat yang lalu kita mengalami gempa yang besar di Bantul. Bahkan, dampaknya terasa ke Gunung Kidul dan bahkan lebih jauh lagi. Sementara itu, tidak berselang lama, terjadi aliran lahar dingin dari Semeru yang memutuskan hubungan beberapa desa. Menjadi menarik mengapa alam bertubi-tubi mendera kita dengan bencana itu.

Sebagaimana dinyanyikan oleh Ebiet G Ade dalam lagunya bertajuk “Berita Kepada Kawan”. Kalau dalam lagu itu diakhiri dengan ‘Bertanyalah pada rumput-rumput yang begoyang..’, apakah kita tidak sadarakan peringatan Tuhan?’

Bila dalam lagu itu diakhiri dengan berkata secara sentimental, hal itu tidak mungkin kita hanya bertanya pada rumput yang bergoyang, tapi kita perlu memahami penyebabnya dan mencarikan solusinya. Sebuah sikap positif yang perlu kita miliki dalam menghadapi keriuhan ini.

Sebagaimana saat gempa yang terjadi pada tahun 1997 di Bantul tenyata oleh ahli-ahli Jepang menemukan bahwa Yogyakarta itu terletak pada sebuah teluk purba yang karena letusan Merapi, sehingga terjadilah daratan sebagaimana seperti yang terlihat saat ini. Sehingga para ahli itu menyampaikan, bahwa apabila dilakukan pengedukan tanah di Yogyakarta maka sangat besar kemungkinan sampai sedalam 200 meter berupa pasir. Dari situlah penyingkapan atas sebuah bencana akan menjadi sebuah sikap terukur yang positif. Sikap terukur yang positif ini pun perlu kita lakukan dalam menghadapi keriuhan ini.

Adalah tidak tepat bila kita bereaksi terhadap pertumbuhan ekonomi yang nyungsep dengan sikap berfoya-foya. Atau paling tidak menghamburkan uang yang hasilnya masih akan diperoleh dalam jangka panjang. Apalagi bila saat penentuan kebijakan dilakukan tanpa sebuah penelaahan dan feasibility study yang cukup.

Ini sangat jelas terlihat. Misalnya, pada saat kita akan menentukan pemindahan ibu kota negara. Kita saat ini sudah mempunyai pengalaman baik dalam negeri, maupun melihat contoh negara lain dalam memindahkan negaranya.

Di dalam negeri sendiri, kita mempunyai pengalaman dalam pemindahan ibu kota Maluku Utara. Bagaimana kota Sofifi yang tidak lebih menjadi kota siang hari. Meski sudah dibangun infrastruktur yang bagus, jalan yang mulus mau-pun gedung yang mentereng, tetapi masyarakat cenderung memilih berhimpitan di kota Ternate. Sofifi sebagai kota yang direncanakan akan menjadi ibu kota propinsi hanya hidup mulai jam 9 pagi sampai jam 4 sore. Bahkan, jam 3 siang sudah berbondong-bondong pegawai negeri sipil mengantre di pelabuhan ferry untuk kembali ke Ternate. Sebuah pemborosan yang cukup besar baik bagi pegawai negeri maupun bagi pemerintahnya.

Saat sekarang pemerintah sekali lagi mengambil kebijakan untuk melakukan pemindahan ibu kota. Tidak tanggung-tanggung memindahkan Ibu Kota Negara.

Penulis hanya teringat kembali saat pemerintah Jawa Barat berkehendak memindahkan ibu kotanya dari Bandung. Waktu itu yang pertama dipilih adalah Bale Endah. Alasannya itu sesuai dengan wangsit. Ternyata yang terjadi adalah kawasan tersebut sangat dipengaruhi oleh kondisi Sungai Citarum. Bila sedang banjir atau Citarum meluap, maka Bale Endah menjadi lautan yang tidak bisa dimanfaatkan untuk kegiatan perkotaan.

Bagaimana dengan kondisi calon ibu kota negara kita?

Kelihatannya ini juga nasibnya akan sama dengan Bale Endah. Beberapa saat yang lalu dilaporkan bahwa kawasan calon ibu kota ini terendam air dalam waktu yang cukup lama. Belum lagi hasil kajian dari Dr. Andang Bachtiar yang sudah meneliti kawasan itu, ternyata mempunyai struktur tanah yang tidak baik untuk dijadikan sebagai kawasan perkotaan.

Ada dua faktor dasar bagi keberlangsungan perkotaan, yaitu daya dukung perkotaan dan lokasi perkotaan.

Daya dukung perkotaan menunjukkan bahwa calon kota ini terletak pada kawasan dengan struktur geologi lempengan dengan patahan-patahan yang cukup rapat. Ini jelas berbahaya bila kita bangun atau kita disain sebagai kawasan perkotaan dengan gedung-gedung tinggi, layaknya sebuah ibu kota negara.

Hal lain yang juga sangat penting adalah faktor sejarah. Kita bisa melihat bahwa Jakarta adalah sebuah kota yang tumbuh dan berkembang dari sebuah kota pelabuhan Sunda Kelapa yang kemudian berubah menjadi Batavia. Itu memerlukan waktu lebih dari 200 tahun untuk dapat berfungsi seperti sekarang.

Marilah kita berangan, berapa tahun yang akan diperlukan oleh kota baru ini untuk tumbuh dan berkembang? Sebuah pertanyaan yang menarik, apalagi saat dimana kondisi keuangan negara ini tidak sedang baik-baik saja.

ADVERTORIAL SPACE

Temukan kami di Google News. Kamu juga bisa dapatkan berita menarik dari WhatApp Channel Holopis. Join yuk guys... !

BERITA TERBARU

Rekomendasi :

Menolak Penggunaan Angket Pemilu yang Mubazir

Oleh : Mochammad Thoha / Ketum Millenial Rajut Indonesia - MRI

Rencana PP Penempatan TNI Polri di Jabatan Sipil: Jokowi Mengembalikan Dwifungsi ABRI

Oleh : Gufron Mabruri / Direktur Imparsial

Legacy Etik Rizal Ramli

Oleh : Ubedilah Badrun / analis sosial politik UNJ.

Berbagi Pemborosan Ala Kementerian ESDM

Oleh : Dr. USMAR, Dekan Fakultas Ekonomi & Bisnis Universitas Moestopo, Jakarta.

Reservasi Bangsa Indian Amerika dan Kasus Masyarakat Melayu Rempang – Galang

Oleh: Aziz Yanuar, SH, MH / Ketua DPP-Advokat Persaudaraan Islam (API)

Komitmen Pemberantasan Korupsi KPK dalam Tantangan Tahun Poitik

Oleh : Firli Bahuri / Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) periode 2019-2023.

Antara Gajah Mada dan Prabowo

Oleh : Muhammad Roofi'u Fauzani / Mahasiswa Universitas Presiden.

Ideologi Relawan Politik

Menjelang akan dibukanya pendaftaran resmi Capres dan Cawapres pada tanggal 19 Oktober 2023 - 25 November 2023 untuk Pemilu 2024 yang akan datang, sudah...

Refleksi HUT Polri Ke-77

Oleh : Sugeng Teguh Santoso / Ketua IPW

Messi, Kereta Musik, dan Politik

Oleh : Adityo Fajar / Ketua Bidang Ideologi dan Kaderisasi Partai Buruh