Yudo Ogah Kerahkan Kekuatan TNI Hanya untuk Selamatkan Pilot Susi Air
HOLOPIS.COM, JAKARTA - Panglima TNI Laksamana Yudo Margono mengatakan, bahwa pihaknya tak mau mengerahkan kekuatan prajurit TNI hanya sebatas untuk menyelamatkan pilot Susi Air, Philip Mark Merthens (37).
Sebagaimana diketahui, Philip sampai saat ini masih disandera oleh kelompok kriminal bersenjata (KKB) Papua pimpinan Egianus Kogoya.
Meski enggan untuk mengerahkan prajurit, namun Yudo memastikan pihaknya akan tetap mengupayakan keselamatan pilot Susi Air dengan cara-cara yang sifatnya persuasif.
"Saya tidak mau mengerahkan kekuatan TNI hanya untuk menyelamatkan pilot. Pilot tetap kita selamatkan dengan cara-cara yang persuasif," ujar Yudo dalam keterangannya yang dikutip Holopis.com, Minggu (9/4).
Menurut Yudo, mengerahkan kekuatan TNI merupakan tindakan yang berisiko. Dia khawatir banyak korban jiwa yang akan berjatuhan apabila mengerahkan prajurit dalam misi penyelamatan pilot Susi Air tersebut.
Selain itu, Yudo juga khawatir KKB akan langsung membunuh pilot Susi Air apabila mengetahui TNI menyerang mereka. Setelahnya, besar kemungkinan KKB akan memutarkan balikkan fakta.
"Kalau diserang TNI, pasti pilot akan dibunuh sama mereka. Nanti difitnah TNI yang membunuh atau Polri," tuturnya.
Meski upaya penyelamatan dengan cara persuasif yang selama dilakukan TNI tidak kunjung berhasil, namun setidaknya TNI berhasil mengamankan sejumlah anggota KKB berikut senjatanya.
"Yang jelas kita sudah berhasil menangkap beberapa KKB, dan sudah menyita beberapa senjata dengan operasi teritorial, Operasi Damai Cartenz yang kita laksanakan bersama Polri," tutur Yudo.
Sebagaimana diketahui pilot Susi Air, Philip Merthens terhitung sudah dua bulan menjadi korban penyanderaan oleh KKB pimpinan Egianus Kogoya di Papua, pada 7 Februari 2023 lalu.
Selain menyandera pilot, kelompok tersebut juga membakar pesawat Susi Air di Lapangan Terbang Distrik Paro, Nduga, Papua Pegunungan.
Sejak saat itu, tim gabungan TNI-Polri terus berupaya melakukan pencarian untuk menyelamatkan Kapten Philip, dengan melakukan upaya pendekatan lunak atau soft approach yang melibatkan masayarakat adat setempat.
Pemerintah juga intens melakukan koordinasi dengan otoritas Selandia Baru terkait penyelamatan warga negaranya yang menjadi korban kebringasan KKB itu.