Sri Mulyani Was-was, Risiko Resesi Makin Rumit

0 Shares

HOLOPIS.COM, JAKARTA – Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani indrawati menyebut situasi perekonomian yang semakin mengkhawatirkan. Bahkan dunia saat ini dihadapkan dengan berbagai risiko baru yang semakin kompleks dan rumit.

Dampak Pandemi Covid-19 yang belum usai hingga ketegangan geopolitik antar negara menimbulkan perang dan disrupsi rantai pasok yang menyebabkan harga-harga komoditas pangan serta energi melambung tinggi.

- Advertisement -

“Ini mengakibatkan tingkat inflasi yang sangat tinggi di Amerika, Eropa, dan Inggris, yaitu inflasi terburuk dalam 40 tahun terakhir. Guncangan hebat ini mengancam daya beli rakyat dan pemulihan ekonomi Indonesia,” kata Sri Mulyani (29/9).

Sri Mulyani menyampaikan, bahwa selama beberapa bulan terakhir ini, sejumlah indikator perekonomian bergerak sangat cepat. Sejumlah komoditas seperti minyak dunia dan CPO mengalami penurunan harga.

- Advertisement -

Tak hanya itu, mata uang beberapa negara termasuk Indonesia mengalami volatilitas yang luar biasa. Selama tahun 2022 saja, nilai tukar mata uang berbagai negara terhadap dolar Amerika mengalami koreksi yang sangat tajam.

Yen Jepang mengalami depresiasi sebesar 25,8%, Renminbi China terdepresiasi 12,9%, dan Lira Turki mengalami depresiasi 38,6%.

Depresiasi itu tak hanya dialami oleh negara-negara maju, negara-negara tetangga pun mengalami harga yang sama. Ringgit Malaysia terdepresiasi 10,7%, Baht Thailand terdepresiasi 14,1%, dan Peso Filipina terdepresiasi 15,7%.

Dalam periode yang sama, nilai tukar rupiah juga mengalami depresiasi sebesar 6,1%.

“Kita juga menyaksikan bahwa inflasi di negara-negara maju yang sebelumnya selalu single digit atau mendekati 0% dalam 40 tahun terakhir, sekarang melonjak mencapai double digit. Bahkan inflasi di Turki mencapai 80,2% dan di Argentina mencapai 78,5%,” ungkap Sri Mulyani.

Menurut Sri Mulyani, inflasi yang sangat tinggi ini telah mendorong respons kebijakan moneter terutama di Amerika Serikat, Inggris, dan negara-negara Eropa lainnya.

Kebijakan moneter yang agresif dengan menaikkan suku bunga itu menyebabkan gejolak di sektor keuangan dan arus modal keluar (capital outflow) dari negara-negara berkembang atau emerging hingga mencapai US$ 9,9 miliar atau setara Rp 148,1 triliun sampai dengan 22 September 2022. Hal ini menyebabkan tekanan pada nilai tukar di berbagai negara berkembang.

“Kenaikan suku bunga di berbagai negara, terutama negara maju jelas akan meningkatkan cost of fund dan mengetatkan likuiditas yang harus kita waspadai secara sangat hati-hati,” ujar Sri Mulyani.

Sri Mulyani menambahkan, kenaikan suku bunga untuk menekan inflasi ini berpotensi akan mempengaruhi kinerja ekonomi global pada tahun 2023, yaitu potensi mengalami koreksi ke bawah. Inflasi yang meningkat dan pertumbuhan ekonomi yang melambat akan mengakibatkan stagflasi.

Negara maju seperti Amerika Serikat dan negara-negara Eropa yang merupakan penggerak perekonomian dunia berpotensi mengalami resesi pada tahun 2023.

“Kami menyampaikan gambaran gejolak ekonomi global saat ini tidak untuk membuat kita khawatir dan gentar, namun untuk memberikan sense bahwa gejolak perekonomian tahun ini maupun tahun depan yang akan kita hadapi bersama harus dapat diantisipasi dan dikelola dengan prudent dan hati-hati,” tutur Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu.

Dia menuturkan, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2023 diharapkan dapat menjadi shock absorber untuk perekonomian dalam negeri.

“APBN 2023 tentu terus diharapkan menjadi instrumen efektif dalam penjaga perekonomian, namun APBN 2023 jelas akan terus diuji dengan gejolak ekonomi yang tidak mudah dan belum mereda,” kata Sri Mulyani.

- Advertisement -
Ikuti kami di Google News lalu klik ikon bintang. Atau kamu juga bisa follow WhatsaApp Holopis.com Channel untuk dapat update 10 berita pilihan redaksi dan breaking news.
0 Shares
💬 Memuat kolom komentar Facebook...
Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut

Berita Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru