Roti Buaya Bukan Sekedar Makanan, Tapi Punya Sejarah dan Filosofi


Oleh : Ronalds Petrus Gerson

JAKARTA, HOLOPIS.COM - Roti Buaya yang sering kita lihat ada dalam sebuah pernikahan, ternyata bukan hanya sebagai sebuah hantaran dalam sebuah pernikahan. Ternyata, roti buaya ini memiliki sejarah dan filosofi yang cukup mendalam.

Dibalik rupanya yang ditakuti banyak orang, buaya merupakan sosok binatang yang paling setia. Itu karena, seekor buaya pejantan hanya akan kawin satu kali dengan seekor buaya betina untuk seumur hidupnya.

Namun, ada juga yang melambangkan buaya sebagai sebuah konotasi yang negatif. Salah satunya, yakni pria hidung belang.

Sejarah Roti Buaya

Pengolahan roti buaya dipercaya, sudah dilakukan oleh masyarakat Betawi sejak ratusan tahun lalu. Bahkan menjadi simbol, dalam tradisi masyarakat Betawi.

Namun dari berbagai sumber yang ada, sungai menjadi cikal bakal adanya tradisi roti buaya. Apalagi masyarakat yang tinggal di bantaran sungai, tahu tentang kesetiaan seekor buaya kepada pasangannya. Bahkan saat pasangannya mati atau hilang, sang pejantan tidak akan mencari betina lainnya.

Sifat buaya yang setia kepada pasangannya itulah, yang akhirnya menjadi sebuah inspirasi masyarakat Betawi yang diwariskan secara turun menurun.

Sisi positif lain yang jadi inspirasi, yakni pergerakan buaya yang tenang saat mencari mangsa jadi simbol kesabaran.

Dari situlah, akhirnya masyarakat membuat roti yang sengaja dibentuk mirip buaya. Namun, awalnya roti buaya memang dibuat bukan untuk dikonsumsi secara harian. Hanya dibuat, saat berlangsung momen khusus seperti acara pernikahan.

Roti Buaya Jadi Hantaran Pernikahan

Dalam sebuah acara pernikahan adat Betawi, biasanya pihak pengantin pria akan membawa roti buaya yang akan diberikan kepada pihak mempelai perempuan.

Bahkan, roti buaya yang dijadikan sebuah hantaran tidak boleh ada cacat atau rusak sampai diterima oleh pihak mempelai wanita. Lalu ukuran roti buaya juga memiliki makna, jika ukurannya semakin besar dipercayai berhubungan dengan masa depan rumah tangga sang pengantin.

Ada juga kepercayaan lainya, saat ada seseorang yang belum menikah makan roti buaya maka akan cepat beertemu jodohnya.

Roti buaya yang dijadikan hantaran, biasanya jumlahnya sepasang. Bahkan dilengkapi dengan telur dan anak buaya sebagai harapan kelak pengantin ini cepat diberi momongan.

Roti Buaya punya filosofi mendalam, dalam sebuah hubungan pernikahan. (Ist)

 Roti Buaya Dulu Tidak Untuk Dimakan

JJ. Rizal seorang sejarahwan Betawi menceritakan, dahulu roti buaya bukan menjadi sebuah makanan untuk dimakan. Apalagi, dulu roti buaya dibuat dengan tekstur sangat keras.

Roti yang aslinya punya rasa tawar ini bisa tahan lama karena hanya terbuat dari campuran tepung terigu dan air.

Biasanyaa setelah pesta pernikahan selesai, roti buaya hanya akan disimpan diatas lemari di kamar pengantin.

Roti buaya hanya didiamkan hingga hancur termakan usia, ini sebagai gambaran pasangan suami istri yang tetap bersama.

Seiring berjalannya waktu, kini roti buaya sudah mulai banyak dimodifikasi bahkan sudah bisa dimakan. Beberapa pembuat roti buaya, memberi isian cokelat, selai dan rasa lainnya yang membuat rasanya makin enak.

Tampilan Utama