Skadron Udara 15 Tempat Gembleng Siswa Penerbang Tingkat Lanjut

JAKARTA, HOLOPIS.COM - Skadron Udara 15 menjadi satuan tugas lainnya yang berada di bawah jajaran Wing 3 Lanud Iswahjudi. Kini, Skadron Udara 15 dipimpin oleh seorang Komandan Skadron Letkol Pnb Dharma Tolopan Gultom, S.T., M.M.O.A.S.S. Pria lulusan Akademi Angkatan Udara (AAU) Tahun 2002 ini telah menjabat sebagai Danskadron sejak 25 Juli 2019.

Saat ini, Skadron Udara 15 tercatat mengelola dan mengoperasikan pesawat T-50i Golden Eagle.Tidak berbeda dengan dua Skadron Udara lainnya yang beroperasi di Lanud Iswahjudi, Skadron Udara 15 juga mengemban tugas pertahanan udara.

“Dalam Peraturan KSAU 2009, Skadron Udara 15 berfungsi melaksanakan operasi udara strategis, operasi lawan udara ofensif, kemudian operasi pertahanan udara,” jelas Letkol Pnb Gultom.

Menilik sejarah Skadron Udara 15, ‘House of Hawk’ ini julukan bagi Skadron Udara 15-memiliki kekhasan tersendiri jika dibandingkan dengan Skadud lainnya. Skadud ini menjadi tempat penggemblengan bagi para siswa penerbang tingkat lanjut hingga nantinya mereka akan dikirim ke Skadron tempur operasional lainnya.

“Kita juga melaksanakan fungsi sebagai pesawat latih lanjut dimana kita akan berperan untuk menyelenggarakan pendidikan kursus pengenalan terbang pesawat tempur. Kita akan memberikan pembekalan dan pendidikan awal bagi para penerbang yang baru lulus dari sekolah penerbang di Yogyakarta untuk nantinya dapat mengawaki pesawat tempur,” ungkap Danskadron 15.

Komandan Skadron Letkol Pnb Dharma Tolopan Gultom, S.T., M.M.O.A.S.S.

Di Skadron Udara 15 lah para penerbang jet tempur masa depan Indonesia akan berlatih untuk menjadi seorang penerbang yang andal, mumpuni, profesional, dan adaptif. Letkol Pnb Gultom juga menyebut Skadron 15 sebagai ‘bridge’ dan awal bagi para penerbang pesawat tempur,seperti pesawat tempur Sukhoi ataupun F-16. Para calon penerbang pesawat tempur akan mendapat pelatihan dan pembekalan yang dirancang dalam sebuah program pendidikan Kursus Pengenalan Terbang Pesawat Tempur (KPTPT).

“Melalui KPTPT, mereka akan mendapat kesempatan untuk beradaptasi dengan pesawat jet tempur, bagaimana kita bisa bersikap sebagai seorang fighter, dan pelatihan mengenai dasar-dasar ilmu penerbangan yang berhubungan dengan fighter. Hal-hal tersebut harus dipahami disini (Skadron Udara 15),” jelas Danskadron 15.

Lamanya masa pendidikan yang harus ditempuh oleh seorang penerbang pesawat tempur yaitu paling lama satu tahun. Mereka akan mendapatkan rata-rata 30 jam terbang.

“Dengan 30 jam terbang itu diharapkan mereka dapat memiliki basic fundamental knowledge of fighters, sehingga mereka dapat mengetahui bagaimana karakteristik terbang dengan menggunakan pesawat tempur dan bagaimana mereka dapat catch up dengan aturan-aturan dasar pesawat tempur. Setelah itu, nantinya mereka akan mempelajari hal-hal yang bersifat advanced di satuan mereka masing-masing,” ungkap Letkol Pnb Gultom.

Selama proses pendidikan, para calon penerbang pesawat tempur berlatih dengan menggunakan pesawat T-50i Golden Eagle yang dioperasikan oleh Skadron Udara 15. Pesawat tempur ini telah menjadi bagian dari kekuatan pertahanan udara Lanud Iswahjudi sejak September 2013.

Komandan Skadron 15 Lanud Iswahjudi Letkol Pnb Dharma Tolopan Gultom, S.T., M.M.O.A.S.S., berswafoto dengan pesawat T-50i Golden Eagle TT5008.

T-50i Golden Eagle merupakan pesawat latih supersonik yang dikembangkan oleh Korean Aerospace Industries (KAI) dan pesawat pengganti Hawk MK-53 buatan Inggris yang harus grounded setelah 30 tahun bertugas mendukung kekuatan pertahanan udara Indonesia. Pesawat ini merupakan jenis Lead in Fighter Trainer (LIFT) yang menawarkan fitur dan karakteristik hampir sama dengan pesawat Operational Combat Unit (OCU).

Selain menyelenggarakan pendidikan, Skadron Udara 15 pun menjalin kerja sama dengan negara mitra seperti Singapura dengan melaksanakan Fighters Weapon Instruction Course yang digelar setiap dua tahun.

“Pelatihan itu merupakan tingkatan tertinggi bagi seorang penerbang untuk menjadi Fighter Weapon Instructor. Secara tingkat, ia akan berada di atas instruktur penerbang. Jika instruktur penerbang akan melatih bagaimana seseorang menjadi seorang penerbang, maka Fighter Weapon Instructor akan mengajarkan bagaimana mengembangkan taktik bertempur bagi seorang penerbang,” jelas Danskadron 15.

Kemudian ia menambahkan bahwa taktik bertempur dengan pesawat tempur akan berubah seiring dengan perubahan teknologi, geopolitik, perkembangan persenjataan, sehingga apa yang diajarkan kepada para penerbang juga harus relevan dengan situasi yang ada saat ini.

Oleh : Ronalds Petrus Gerson