JAKARTA, HOLOPIS.COM – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengungkapkan ada 34 proyek pembangkit tenaga yang terkendala. Dari 34 proyek Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) itu, 12 di antaranya dipastikan batal dibangun.
“(12 PLTU) Itu benar-benar dihentikan, batal membangun PLTU,” ujar Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM Rida Mulyana dalam konferensi pers bertajuk ‘Isu-isu Terkini Subsektor Ketenagalistrikan’ dari YouTube Info Gatrik dikutip Sabtu (5/6/2021).
Berdasarkan data yang dipaparkan Rida diketahui ke-12 proyek PLTU yang batal dibangun itu 4 di antaranya berada di Sumatera yaitu PLTU Tembilahan berkapasitas 2×5,5 megawatt (MW), PLTU Kuala Tungkal berkapasitas 2×7 MW, PLTU Ipuh Seblat berkapasitas 2×3 MW, dan PLTU Bengkalis berkapasitas 2×10 MW.
Sedangkan, 3 proyek lainnya berada di Kalimantan yaitu PLTU Tarakan berkapasitas 2×7 MW, PLTU Kuala Pambuang berkapasitas 2×3 MW, dan PLTU Buntok berkapasitas 2×7 MW.
Selanjutnya berada di Sulawesi yaitu PLTU Raha berkapasitas 2 x 3 MW, PLTU Bau-Bau berkapasitas 2 x 10 MW, dan PLTU Wangi-Wangi berkapasitas 2 x 3 MW.
Sisanya yang disetop ada di Maluku dan Papua yaitu PLTU Ambon-FTP1 berkapasitas 2 x 15 MW dan PLTU Jayapura berkapasitas 2 x 15 MW.
Meski disetop atau determinasi, ke-12 proyek itu nantinya akan diganti dengan proyek transmisi listrik, sehingga tidak mengorbankan pasokan di daerah tersebut.
“Terminasi di sini tidak serta merta mengorbankan pasokan di daerah itu, terminasi itu konteksnya digantikan dengan proyek lain artinya dengan cara membangun tranmisi di situ, melakukan ekstensi, narik kabel, diteruskan narik kabelnya, sehingga kemudian pembangkit di situ tidak diperlukan lagi,” terangnya.
Selain itu, ada 22 proyek lainnya yang terkendala. Akan tetapi, 7 di antaranya kini sudah beroperasi kembali dan 15 lainnya masih dalam proses penyelesaian pembangunannya.
Adapun penyebab dibalik terkendalanya proyek-proyek pembangkit tersebut tidak lain karena masalah pendanaan. Banyak lembaga keuangan asing yang menarik diri dari proyek-proyek energi fosil. Hal itu tentu berdampak pada pengembangan energi di Indonesia sebab pembangkit listrik di dalam negeri masih menggunakan energi fosil seperti batu bara.
“Lembaga keuangan di luar negeri banyak yang men-declare tidak akan lagi membiayai, artinya proyek itu tidak akan terlaksana kalau enggak ada yang membiayai karena enggak mungkin semuanya dibangun dengan equity,” tuturnya. (MIB)